Minggu, 21 Juni 2009

Chikan "Kriminalitas warga Jepang Di Kereta"

Assalamulaikum Wr.Wb

Chikan terjemahan bebasnya kira kira orang yang meraba atau menggrayangi tubuh wanita (yang tidak dikenal tentu saja) tanpa ijin. Istilah ini umumnya ditujukan pada populer dilakukan di dalam kereta api dengan memanfaatklan kepadatan kereta pada saat "jam sibuk" atau "rush hour" yaitu ketika jam pergi dan pulang kerja, Kriminalitas jenis ini cukup banyak dan umum terjadi di negara ini. Di banyak tempat di dalam stasiun terpampang tulisan peringatan tentang chikan "chikan wa hanzai desu" atau chikan adalah kejahata, namun kasus baru tetap saja terjadi. Situasinya memang sangat memungkinkan terjadi karena kereta api adalah alat transportasi yang paling banyak digunakan oleh orang jepang karena praktis, murah dan juga tepat waktu. Tentu saja istilah umum, populer atau banyak tentu harus ditulis dengan tanda petik.



Kesempatan dalam kesempitan

Kepadatan penumpang pada saat rush hour memang sangat "menakjubkan". Karena membludaknya jumlah penumpang pada rush hour, membuat sebagian besar penumpang harus berdiri tanpa pegangan apapun.Tempat duduk ? sebaiknya lupakan saja. Untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika kereta berguncang atau membelok, sepenuhnya mengandalkan himpitan orang disekitarnya. Keadaan semakin sulit karena kita hampir tidak bisa merengkan kaki untuk membuat kuda kuda. Walaupun kereta datang dan pergi hampir setiap tiga menit, tatap saja seakan tidak mampu menampung banyaknya jumlah penumpang. Nah pada saat berdesakan dan berhimpitan dalam kereta seperti inilah kejahatan chikan ini terjadi.

Korban harus berteriak

Dari manual atau aturan standar yang banyak ditempel di staiun, korban diharuskan berteriak keras dan menangkap basah. Bukti yang dikuatkan oleh saksi atau penumpang lain tentu lebih baik lagi yang kemudian pelaku diserahkan dan dilaporkan ke pihak petugas stasiun. Korban yang sering mendapat pelecehan tanpa diketahui pelakunya dengan pasti juga bisa dilaporkan ke petugas, yang nantinya akan menerjunkan tim khususnya untuk memata-matai dan menjebak pelakunya. 

Kadang korban menemukan kesulitan untuk mengatakan apakah "rabaan" saat itu termasuk disengaja atau tidak. Sedikit tambahan tindakan chikan bukan hanya berarti meraba, tapi juga (maaf) mengesekkan tubuh pelaku ke tubuh korbannya. Repotnya disamping kebanyakan pelaku yang menjalankan aksinya secara tunggal dan spontanitas, kadang ada juga pelaku yang melakukannya secara berkelompok dengan cara mengurung si korban sehingga aksinya tidak bisa dilihat oleh orang disekitarnya seperti yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa baru baru ini dan berhasil diungkap oleh pihak kepolisian dengan menjebak pelakunya. Kejadian berkelompok seperti ini termasuk langka.

Tetap nekat 

Chikan dianggap sebagai kasus yang serius. Hal ini bisa dinilai beratnya hukuman yang harus diterima si pelaku, dipecat dari pekerjaan tampaknya sudah merupakan keharusan dan kasusnya pasti disiarkan melalui televisi. namun tiap tahun selalu saja ada orang yang nekat melakukannya. Pelakunya kebanyakan karyawan biasa yang melakukanya sebagai "hobby sampingan" ketika berangkat dan pulang kerja. Direktur, orang yang memiliki posisi tinggi di suatu perusahaan ataupun remaja anak sekolahanpun tidak tertutup kemungkinannya sebagai pelaku. 

Gerbong khusus wanita

Untuk meminimalkan kasus chikan ini, pihak perusahaan kereta api umumnya memberlakukan gerbang khusus wanita pada jalur jalur dan jam tertentu. Namanya juga gerbong khusus wanita, penumpangnya tentu saja women only, walaupun kadang kadang ada juga kaum pria yang salah masuk karena terburu buru ataupun bingung seperti saya contohnya. Sedangkan wanita yang nyasar ke ke "gerbong pria " bukanlah merupakan pelanggaran tentu saja. 

Salah tangkap ?

Seperti yang sudah disebutkan di atas, dalam situasi yang sangat berdesakan memang cukup sulit untuk mengidentifikasikan pelakunya. Salah tangkap kadang juga terjadi dan untuk memastikannya tentu harus dibuktikan lewat pengadilan yang tentunya memakan waktu yang tidak singkat. Tentu saja bukan merupakan situasi yang menyenangkan dituduh sebagai pelaku atas apa yang tidak kita lakukan, namun tampaknya kalau nasib lagi apes, hal itu tidak tertutup kemungkinannya terjadi. Jadi kata "ki o tsukette" atau hati hati tidak berlaku cuma untuk kaum wanita saja. Selama ini saya pribadi (sebagai pihak pria) biasanya akan selalu berusaha mencari pegangan ketika dalam kereta atau kalau keadaan tidak memungkinkan, berusaha meletakkan tangan di tempat yang sedikit tinggi dibanding tangan menggelantung lemas mencurigakan. Atau mau lebih aman lagi, hindari rush hour !

Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum Wr.Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar